Pertanyaan: Assalaamu 'alaikum, pak Ustadz, saya mau tanya, bagaimana caranya berbakti kepada orang tua sedangkan orang tua ketika aku kecil tidak sayang padaku. Bahkan aku seperti bukan anaknya, mohon kasih saran. Wassalaam. (081316404***) Jawaban: Wa'alaikumus salaam warahmatullah. Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam Al-Qur`an akan wajibnya berbakti kepada orang tua, seperti dalam firman-Nya: ??????? ??????? ?????? ?????????? ?????? ???????? ?????????????????? ?????????? ?????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ???? ?????????? ????? ?????? ??????? ????? ????? ????????????? ?????? ??????? ??????? ???????? (23) ????????? ??????? ??????? ???????? ???? ??????????? ?????? ????? ???????????? ????? ??????????? ???????? (24) "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Israa`: 23-24) Dan juga firman-Nya: ??????????? ??????? ????? ?????????? ???? ??????? ?????????????????? ?????????? "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, ...." (An-Nisaa`: 36) Juga firman-Nya: ???? ?????????? ?????? ??? ??????? ????????? ?????????? ?????? ?????????? ???? ??????? ?????????????????? ?????????? "Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, ...." (Al-An'aam: 151) Dan ayat-ayat yang lainnya yang memerintahkan berbuat baik kepada orang tua sangat banyak, bahkan dalam sebagian ayat-ayat tersebut (sebagaimana tertera di atas) Allah gandengkan perintah agar berbuat baik kepada orang tua dengan perintah-Nya agar hanya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun yakni setelah Allah perintahkan kepada kita agar mentauhidkan-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, Allah perintahkan kepada kita agar berbuat baik (berbakti) kepada orang tua. Ini menunjukkan akan besarnya hak orang tua kepada anaknya. Bahkan kalaupun orang tua kita memerintahkan maksiat atau bahkan kesyirikan maka kita tidak boleh taat kepadanya akan tetapi tetap berbuat baik kepadanya dalam perkara dunia seperti memberi makan, menyucikan bajunya, mengunjunginya, menasehatinya dan yang lainnya. Allah berfirman: ?????? ?????????? ???? ???? ???????? ??? ??? ?????? ???? ???? ?????? ????? ??????????? ?????????????? ??? ?????????? ?????????? "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqmaan: 15) Mudah-mudahan dengan kita berbuat baik kepada orang tua walaupun orang tua kita memerintahkan maksiat atau berbuat zhalim atau tidak sayang kepada kita, dan kita menasehatinya dengan cara yang terbaik dan lemah lembut serta kita berdo'a kepada Allah agar memberi hidayah kepadanya, niscaya hasilnya pun akan baik. Allah berfirman: ???? ??????? ??????????? ?????? ??????????? "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar-Rahmaan: 60) Bersabarlah dalam menghadapi keduanya. Allah berfirman: ???????? ???????? ????????????? ?????????? ???????? ??????? "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10) Semoga Allah Ta'ala selalu membimbing kita semua kepada apa yang diridhai dan dicintai-Nya serta memberikan kekuatan untuk bisa mengikutinya. Aamiin. Wallaahu A'lam. Syi'ah dan Para Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam [Kajian Manhaji - Membongkar Kesesatan Syi'ah (2)] Berbagai mahkota keutamaan dan kemuliaan yang hakiki telah berhasil diraih oleh generasi terbaik umat ini, seiring kebaikan mereka yang tak akan pernah tertandingi oleh generasi sesudahnya sepanjang jaman. Merekalah para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pribadi-pribadi manusia yang telah Allah pilih untuk mendampingi utusan-Nya yang termulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di dalam mengemban risalah dakwah-Nya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya." (Al-Fath: 29) Maka tak ayal lagi, kalau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merekomendasikan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini. Beliau bersabda: ?????? ???????? ???????? ????? ?????????? ???????????? ????? ?????????? ???????????? "Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabat) kemudian generasi sesudahnya (para tabi'in) kemudian generasi sesudahnya (para pengikut tabi'in)." (Muttafaqun 'alaih) Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Dan masing-masing mereka (para shahabat) adalah orang yang adil, imam yang memiliki keutamaan dan keridhaan. Diwajibkan atas kita untuk memuliakan, menghormati, memintakan ampunan untuk mereka dan mencintai mereka. Satu buah kurma yang mereka sedekahkan lebih utama dari sedekah seluruh apa yang kita miliki. Duduknya mereka bersama Nabi lebih utama daripada ibadah kita sepanjang masa. Kalau seandainya seluruh umur kita gunakan untuk beribadah terus-menerus maka tidak akan mampu menandingi amalan sesaat atau lebih dari mereka." (Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/663) Para Shahabat dalam Tinjauan Syi'ah Rafidhah Ternyata mahkota keutamaan dan kemuliaan ini telah dicabik-cabik para tentara Iblis yang telah memendam kebencian dan kedengkian terhadap mereka. Syi'ah Rafidhah-lah, tentara pertama kali dan paling gigih mengobarkan api kebencian dan kedengkian tersebut. Wujud kebencian kaum Syi'ah Rafidhah telah tertuang di dalam lembaran-lembaran tulisan ulama mereka seiring dengan bergantinya generasi dan kurun waktu. Dalam kitab Syarh Nahjil Balaghah 20/22, Ibnu Abil Hadid mengatakan: "Para shahabat adalah satu kaum yang mendapat kebaikan dan kejelekan sebagaimana manusia lainnya. Barangsiapa di antara mereka yang berbuat kejelekan maka kami cela, sedangkan yang berbuat kebaikan kami puji. Mereka tidak memiliki keutamaan yang besar dibandingkan kaum muslimin yang lainnya kecuali hanya sekedar pernah melihat Rasulullah. Tidak lebih daripada itu. Bahkan bisa jadi, dosa mereka lebih besar daripada dosa selain mereka." Al-Kulaini di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kafi 8/245-246 meriwayatkan dari Abu Ja'far bahwa dia berkata: "Para shahabat adalah orang-orang yang telah murtad (sepeninggal Nabi-pent), kecuali tiga orang saja." Maka aku (periwayat) bertanya: "Siapa tiga orang itu?" Maka dia menjawab: "Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi." Muhammad Baqir Al-Majlisi di dalam kitab Haqqul Yaqin hal. 519 berkata: "Aqidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala yaitu Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, Mu'awiyah dan empat wanita yaitu 'Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummul Hakam serta seluruh orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi ini. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para imam (menurut keyakinan mereka) kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi." Al-Mulla Kazhim di dalam kitab Ajma'ul Fadha'ih hal. 157 meriwayatkan dari Abu Hamzah Ats-Tsumali -berdusta atas nama Ali Zainal Abidin rahimahullah- bahwa beliau berkata: "Barangsiapa yang melaknat Al-Jibt (yaitu Abu Bakar) dan Ath-Thaghut (yaitu 'Umar) dengan sekali laknatan maka Allah catat baginya 70 juta kebaikan dan Dia hapus sejuta kejelekan. Allah angkat dia setinggi 70 juta derajat. Barangsiapa sore harinya melaknat keduanya dengan sekali laknatan maka baginya (pahala) seperti itu." Bahkan di dalam kitab wirid mereka Miftahul Jinan hal. 114 disebutkan wirid Shanamai Quraisy (dua berhala Quraisy yaitu Abu Bakar dan 'Umar), di antara lafazhnya berbunyi: ??????????? ????? ????? ????????? ??????? ??? ????????? ????????? ???????? ???????? ??????????????? ?????????????????? ???????????????? "Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah dua berhala Quraisy, dua syaithan, dua thaghut dan kedua anak perempuan mereka ('Aisyah dan Hafshah)." Para ulama Syi'ah Rafidhah telah menukilkan ijma' mereka tentang kafirnya para shahabat, di antaranya Al-Mufid bin Muhammad An-Nu'man di dalam kitab Awa'ilul Maqalat hal. 45, dia berkata: "Imamiyyah (Syi'ah Rafidhah), Zaidiyyah dan Khawarij bersepakat bahwa orang-orang yang melanggar perjanjian dan menyeleweng, dari penduduk Bashrah dan Syam (para shahabat -menurut anggapan mereka- pent) adalah orang-orang kafir, sesat dan terlaknat karena memerangi Amirul Mukminin (Ali -pent). Mereka itu kekal di Jahannam." Para pembaca, perhatikanlah kata-kata keji mereka! Dengan berbekal kedustaan dan kebencian, mereka berupaya meruntuhkan pondasi-pondasi Islam yang kokoh. Setelah Al-Qur`an mereka usik keabsahannya, maka kini giliran manusia-manusia terbaik umat ini dari para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mereka lecehkan dan kafirkan. Lalu Islam apa yang ada pada mereka? Kenapa mereka menyembunyikan firman Allah yang artinya: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100) dan firman-Nya yang lain?!? Tidak ingatkah mereka dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: ??? ?????????? ??????????? ???????????? ???????? ???????? ???? ???????? ?????????? ?????? ?????? ??????? ??? ?????? ????? ?????????? ????? ?????????? "Janganlah kalian mencerca para shahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka (pahala) infaq kalian tidak akan mencapai (pahala) infaq sebanyak dua telapak tangan mereka bahkan tidak pula setengahnya." (Muttafaqun 'alaih)